spot_img
Selasa, November 3, 2026
spot_img
BerandaInternasionalKripto Diguncang Rekor Bobol Rp114 T, Nasabah Ramai-ramai Tarik Dana Rp66 T...

Kripto Diguncang Rekor Bobol Rp114 T, Nasabah Ramai-ramai Tarik Dana Rp66 T dari Binance

Date:

spot_img

​KUITANSI.ID — Industri aset digital global tengah menghadapi ujian terberatnya tahun ini. Bursa kripto terbesar di dunia, Binance, menjadi sasaran perampokan siber terbesar sepanjang sejarah setelah sistemnya dibobol maling dunia maya hingga menguras US$6,3 miliar (sekitar Rp114 triliun).

​Kepanikan langsung menjalar ke tingkat akar rumput. Berdasarkan catatan pasar, para nasabah berbondong-bondong melakukan penarikan dana massal (net outflows) menembus US$3,64 miliar atau setara Rp66 triliun—atau mencakup 2,1% dari total aset platform—hanya dalam sehari setelah layanan penarikan kembali dibuka pascainsiden.

​Di tengah gelombang penarikan dana yang sempat melonjak tajam, manajemen Binance memastikan kondisi operasional mulai berangsur stabil. Pihaknya mengklaim telah bergerak cepat dengan mengganti 95% dari total aset nasabah yang amblas.

​Sisa 5% dana yang belum sepenuhnya kembali merupakan aset dengan likuiditas rendah (illiquid assets) yang memerlukan waktu lebih panjang untuk pengadaannya di pasar sekunder. Proses penarikan ini sendiri dilakukan secara bertahap, dengan memprioritaskan 15 koin utama seperti Bitcoin, Ether, Dogecoin, hingga stablecoin USDC dan USDT.

​Sebelumnya, platform analisis blockchain DefiLlama merilis angka penarikan yang jauh lebih fantastis, yakni menyentuh US$5,81 miliar (Rp105 triliun). Namun, ujar pihak Binance, dikutip dari Reuters, Senin (2/11/2026), angka tersebut dinilai tidak valid karena keliru membaca alur kas internal perusahaan.

​“Angka ini tidak memperhitungkan arus dana yang kami setorkan ke hot wallet baru milik internal kami sendiri, sehingga data tersebut kurang akurat. Pembaruan resmi kami di platform X adalah yang paling mendekati riil,” tegas pihak Binance, dikutip dari Reuters, Senin (2/11/2026).

​Biro Investigasi Federal (FBI) AS secara terbuka menuding kelompok siber asal Korea Utara, TraderTraitor, sebagai otak intelektual di balik serangan kilat yang hanya memakan waktu sekitar 20 menit tersebut. Para hacker disinyalir langsung melarikan dan mencuci dana curian ke jaringan mata uang kripto Ether.

​Meski firma riset keamanan seperti TRM Labs dan Chainalysis memperkuat temuan serupa, pemerintah Pyongyang konsisten bungkam dan membantah keterlibatan mereka. Menariknya, Presiden AS Donald Trump justru melontarkan pernyataan bernada skeptis.

“Kita belum tahu pasti apakah pelaku utamanya adalah Korea Utara. Namun, jika benar, kita akan membicarakan hal ini langsung dengan Korea Utara,” ujar Trump.

​Co-CEO Binance, Richard Teng, mengakui bahwa peretasan ini merupakan skema tingkat tinggi yang memanfaatkan celah dari laptop salah satu insinyur internal yang telah disusupi malware penghapus jejak.

​Sebagai bentuk tanggung jawab penuh kepada 335 juta pengguna globalnya, Binance menyisihkan dana internal jumbo sebesar US$6,34 miliar untuk menutup lubang kerugian. Langkah taktis ini didukung oleh:

  1. ​Penyedotan 50% dari dana perlindungan SAFU (Secure Asset Fund for Users) senilai US$1 miliar.
  2. ​Alokasi kas internal dan Futures Insurance Fund.

​Manajemen berjanji akan segera meregenerasi cadangan SAFU tersebut kembali ke level maksimal US$1 miliar dalam waktu dekat. Sementara itu, sang pendiri, Changpeng Zhao (CZ), menyampaikan apresiasi terbuka kepada otoritas hukum Amerika Serikat yang sigap membantu pembekuan aset curian sehingga stabilitas harga pasar utama seperti Bitcoin dapat terjaga.(Imam).

spot_img

Latest stories

spot_img

Berita Populer